Senin, 31 Agustus 2009

Kuantitas vs Kualitas (I)



Oleh: Ahmad Syafii Maarif



Berapa jumlah umat Islam sejagat tahun 2009 ini? Data demografis berbeda dalam memberikan informasi. Selama ini kita membaca bahwa jumlah itu bergerak antara 1,2 s.d. 1,3 miliar. Tetapi, sumber Muslim yang terbaru menunjukkan bahwa jumlah umat Islam telah mencapai angka 1,82 miliar, sementara sumber CIA (Central Intelligence Agency) Amerika mencatat jumlah 1,634,948,648 dari total penduduk dunia 6,780,584,602. Dengan rata-rata pertumbuhan penduduk Muslim 2,9 persen dibandingkan angka rata-rata pertambahan penduduk dunia 2,3 persen per tahun, Islam adalah agama yang tercepat mendapatkan penganut baru akibat kelahiran plus pendatang baru yang juga tidak sedikit jumlahnya. Sekarang di hampir semua negara Uni Eropa, Islam sudah berada pada posisi kedua sesudah agama Kristen. Jika kecenderungan ini berjalan stabil, pada tahun 2020 satu dari 10 warga Eropa adalah Muslim.

Angka-angka pertumbuhan spektakuler ini bisa pula dilihat dalam perjalanan waktu sebagai berikut. Pada tahun 1900, perbandingan antara umat Kristen dan Muslim adalah 26.9 persen:12.4 persen; tahun 1980 30 persen:16.5 persen; tahun 2000 29.9 persen:19.2 persen; dan diproyeksikan di tahun 2030 akan berubah menjadi 25 persen Kristen dan 30 persen Muslim. Mereka bertebaran pada 183 negara (data tahun 2009). Sampai saat ini, rekor penduduk Muslim terbesar masih terpegang di tangan Indonesia, yaitu sekitar 88.22 persen dari total penduduk sekitar 235 juta. Yang ajaib adalah fenomena pasca-Tragedi 9/11/2001, di saat Islam diidentikkan orang dengan terorisme, keingintahuan warga Barat terhadap agama ini justru meningkat tajam. Salah satu indikatornya menurut catatan Karen Armstrong pada 2007 saja karyanya Understanding Islam telah terjual sebanyak 250 ribu kopi di kawasan Pantai Timur Amerika Serikat. Kita belum punya informasi di kawasan lain, baik di belahan bumi Barat ataupun di belahan bumi Timur.

Jika angka-angka di atas menunjukkan kebenaran, umat Islam yang bangga berpikir serbakuantitatif, apa lagi yang harus dirisaukan? Tidak ada! Jumlah umat semakin meng- garadak (Minang: banyak sekali). Dengan angka kelahiran yang cukup tinggi per tahun, pertambahan penduduk Muslim sedunia seperti sudah tidak dapat dibendung. Saat ini, ke negara mana pun anda mengembara, hampir dapat dipastikan bahwa di sana akan ada saudara seagama yang tinggal, menetap, atau sementara. Tetapi, jika kita mau berpikir jauh ke depan secara perhitungan, kebanggaan jumlah kuantitatif itu wajib secepatnya diiringi oleh kebanggaan kualitatif. Artinya, kualitas umat Islam, dalam posisi sekarang, dari sisi mana pun anda memandangnya, masih jauh di bawah standar. Kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, dan perpecahan adalah fenomena lain yang sesungguhnya lebih patut benar dicemaskan. Jumlah besar minus kualitas, jika mau dibanggakan juga, itu semua adalah kebanggaan semu yang membebani. Ayat-ayat ilmu dalam Alquran telah lama bernasib sebagai yatim piatu dalam kehidupan kita sampai batas-batas yang jauh.

Tengoklah kenyataan ini. Umat Islam yang katanya percaya pada lima ayat pertama dalam surat al-Alaq sebagai wahyu pertama yang diturunkan Allah via Jibril kepada Nabi Muhammad berupa perintah untuk membaca, akan terasa sangat ironis dan di luar nalar mengapa mereka telah tersungkur dan sempoyongan dalam bilangan abad dihimpit kebodohan dan kemiskinan? Kaum Muslimah yang jumlahnya mungkin melebihi kaum pria, di sebagian dunia Islam, jangankan diberi pendidikan agar menjadi cerdas, justru sampai hari ini masih ada yang dipasung di rumah di lingkungan 'rahmat' buta aksara, yang menghina martabat mereka. Bukankah lima ayat di atas yang diawali dengan perintah 'membaca' ditambah dengan puluhan ayat yang lain sebenarnya adalah deklarasi tentang mustahaknya penguasaan ilmu pengetahuan untuk seluruh umat Islam? Sudah berapa lama umat ini hidup dalam kultur buta huruf yang sangat memprihatinkan? Dari sisi moral pun, kita bukanlah yang terbaik di antara umat manusia sekarang. Berbilang musim sudah kita telantarkan Alquran, mungkin tanpa sadar, sedangkan pertambahan jumlah umat semakin berjibun juga dari detik ke detik, sebagaimana ditunjukkan angka-angka di atas. Membiarkan keadaan semacam ini berlangsung lama, sama artinya kita telah mengkhianati seluruh perintah suci Alquran yang secara formal kita agungkan

Tidak ada komentar:

Al Quran On Line