Jumat, 21 Agustus 2009

Ramadhan: Bulan Tarbiyah dan Investasi



Oleh Mohammad Nuh
Menteri Komunikasi dan Informatika


Dikisahkan ada dua orang anak, adik dan kakak, masing-masing berusia 8
dan 10 tahun. Mereka ditinggal mati Sang Ayah akibat kecelakaan di saat usia mereka 5 dan 7 tahun. Menjelang awal Ramadhan, mereka berdua saling berboncengan naik sepeda pancal menuju makam Sang Ayah.

Setelah sampai di tempat pemakaman Sang Ayah, sepedanya disandarkan di pagar pemakaman. Sang kakak menggandeng tangan adiknya menuju pusara Sang Ayah. Mereka berdua duduk bersila di dekat pusara Sang Ayah, sambil membaca Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas.

Empat surah itu saja yang mereka baca secara berulang-ulang. Setelah mereka membaca surah-surah tersebut Sang Kakak memimpin doa dan adiknya ikut mengaminkan. Doa yang dibacanya pun tampak seperti lazimnya yang dibaca oleh orang lain yaitu: Rabbighfirlii walii walidayya warhamhuma kamaa robbayaanii shoghiiroo (Ya Allah, Ya Tuhanku, ampunilah aku, dan kedua orang tuaku dan kasih sayangilah mereka sebagaimana mereka telah mendidik dan mengasihsayangiku di waktu kecil).

Mereka membacanya secara berulang-ulang dan ditutup dengan doa Robbana aatina fiddunya hasanah wafil aakhiroti hasanah waqina 'adzabannar. Sambil berbinar-binar mata mereka berdua, mereka tinggalkan pusara Sang Ayah, mereka kembali pulang sambil berboncengan menuju rumah yang amat sederhana, di mana ibu mereka sedang menunggu.

Kisah di atas menggambarkan Sang Ayah termasuk orang yang berhasil melakukan investasi kehidupan. Meskipun dia hanya sempat berinvestasi selama 5 dan 7 tahun, dia telah menerima pengembalian, buah dari investasi yang pernah dia lakukan.

Bagaimana dengan kita semua, betapa malunya kita, meskipun orang tua kita telah mengantarkan sampai kita lulus perguruan tinggi, bahkan sampai kita berkeluarga, ternyata kita masih terlalu sering membuat jengkel hati kedua orang tua kita. Kita masih belum mampu sepenuhnya membahagiakan kedua orang tua kita.

Percayalah, apa saja kebaikan yang pernah kita lakukan, merupakan investasi. Pada saatnya insya Allah kita akan memetik buah investasi itu, selama kita tidak merusaknya sendiri dengan cara menyebut-nyebut, riya', mengungkit-ungkit, dan menyakitkan hati si penerima investasi. (QS 2:264).

Memasuki Ramadhan, kisah ini perlu direnungkan. Kenapa? Karena pada Ramadhan inilah suasana dan lingkungannya memungkinkan dan mendorong kita melakukan kontemplasi, introspeksi spiritual terhadap apa-apa yang telah, belum, dan akan kita lakukan.

Terhadap ayah dari dua anak tadi, sesungguhnya dia merupakan orang tua yang telah melakukan pendidikan terhadap kedua anaknya, sekaligus melakukan investasi yang tepat dan benar. Kata investasi adalah kata yang bagi kebanyakan orang seringkali dikaitkan dengan kesediaan untuk melepaskan kepemilikannya demi masa depan. Baik masa depan yang sifatnya kekinian (di dunia ini) maupun masa depan yang sifatnya kenantian (nanti di akhirat).

Buah masa depan hanya dapat digapai, bila dan hanya bila kita telah pernah menanamnya. Oleh karena itu, tepatlah sebuah pepatah: man zaro'a hashoda (barangsiapa yang menanam akan memetik hasilnya) atau yang dirumuskan dalam formula Return of Investment (ROI). Mengapa kita harus dan bersedia berinvestasi? Hampir semua jawaban selalu mengaitkan dengan keyakinan akan adanya pengembalian yang lebih baik di masa depan, sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan.

Seorang petani yang menaburkan benih padi di hamparan sawah, karena sang petani memiliki keyakinan, bahwa benih padi yang baik tadi akan tumbuh dan menghasilkan padi jauh lebih banyak dari benih yang telah dia taburkan. Syarat kedua, sang petani harus dengan sabar merawatnya, insya Allah pada saatnya nanti, padi tersebut akan tumbuh dengan baik dan memberikan hasil.

Hasil investasi tadi tidak lain untuk memenuhi kebutuhan, dan sukses dalam kehidupan kalau kita bisa memenuhi kebutuhan. Demikian, kata para ahli hikmah. Dan puncak kebutuhan itu terjadi pada saat, apabila kemungkinan partisipasi orang lain dalam memenuhi kebutuhan tersebut sangat kecil. Atau dalam bahasa yang lain, dalam memenuhi kebutuhan tersebut, semata-mata tergantung pada diri kita sendiri.

Ada dua saat, tiap orang akan mengalami puncak kebutuhan, yaitu pada saat sakarotul maut (menjelang kematian) dan di saat kita telah dimakamkan. Pada saat sakarotul maut itu, yang menjadi kebutuhan kita (dalam Islam) adalah kita tetap berpegang teguh kalimah tauhid: Laa Ilaaha Illallah, Muhammadan Rasulullah. Di saat-saat seperti ini, tidak banyak orang yang akan berpartisipasi untuk memenuhi puncak kebutuhan kita. Paling-paling anak, istri, suami atau keluarga dan sahabat dekat. Pendek kata, hanya orang-orang yang memiliki emotional attachment dengan kita yang berpartisipasi dalam memenuhi puncak kebutuhan tersebut.

Itulah sebabnya, mengapa kita tidak menjenguk orang yang sedang opname di rumah sakit, meskipun kita tiap hari lewat di depan rumah sakit tersebut. Dan meskipun kita sadar sesadarnya, bahwa menjenguk orang yang sedang sakit itu adalah perbuatan yang sangat terpuji. Jawabannya sederhana, karena tidak ada emotional attachment antara si sakit dengan kita.

Anak, istri, dan suami yang shaleh/shalehah di saat kita menghadapi sakarotul maut tersebut bukan hanya sibuk mencari dokter, obat, tapi dia juga ambil air wudhu, dibentangkan sajadah, shalat sunnah, berdoa, dan membisikkan, membimbing dengan kalimah tauhid dan kalimah thoyyibah lainnya. Karena memang itulah, hakikat yang kita butuhkan di saat sakarotul maut.

Alangkah sedihnya, di saat kita mengalami puncak kebutuhan, ternyata orang-orang dekat kita tidak paham akan hakikat yang kita butuhkan. Di sinilah pentingnya kesadaran dan kesediaan diri kita untuk melakukan investasi kehidupan, membangun lingkungan dan generasi yang berdimensi kaffah, yaitu insan kamil, insan yang cerdas, santun, dan berkepribadian.

Itulah salah satu makna Ramadhan yaitu sebagai bulan tarbiyah (pendidikan) dan investasi, karena di dalamnya serangkaian janji Allah SWT menjelaskan terhadap berlipat gandanya amalan-amalan wajib dan amalan-amalan sunah. Marilah kita songsong Ramadhan dengan penuh suka cita, kita siapkan diri ini untuk memasuki Ramadhan dengan perhitungan-perhitungan yang matang. Memang, ibadah tidak hanya soal hitung-menghitung, tapi mendasarinya dengan itu, bukanlah sesuatu yang salah. Semoga. Amin.

Tidak ada komentar:

Al Quran On Line