Jumat, 05 Desember 2008

Sang Guru


Oleh Zaim Uchrowi

1200 tahun Sebelum Masehi. Di tanah Mesir di pantai, entah Mediterania, Laut Merah, atau cuma tepian Sungai Nil, lelaki perkasa itu harus 'sungkem' pada Sang Guru. Ia sosok luar biasa, Ia bukan saja pemberani, namun juga punya fisik sangat kuat. Kepalan tangannya terbukti mampu menewaskan orang. Ia pembela utama masyarakatnya, Bani Israel, di tanah perantauannya. Lebih dari itu, ia juga mendapat mandat Tuhan untuk menghancurkan simbol kediktatoran terbesar sepanjang masa: Firaun.

Musa. Siapa meragukan kebesarannya? Tiga agama besar dunia, Islam, Nasrani, dan Yahudi, menghormatinya. Tak ada catatan yang dapat merusak kesempurnaannya. Toh, seorang Musa pun memerlukan guru. Orang-orang menyebut nama Sang Guru itu Khaidir. Sosok yang tampak biasa saja, namun mampu mengajarkan berbagai 'hikmah' yang tak dikuasai Musa. Pelajaran hikmah itulah yang membuat Musa tidak hanya punya kekuatan dan keberanian, namun juga kebijakan dan kearifan. Maka, Musa menjadi satu dari lima Rasul Besar, 'Ulil Azmi', yang tercatat dalam peradaban besar manusia.

Besarnya peran Sang Guru bukan hanya ada di lingkungan penganut agama samawi. Di lingkungan Hindu, dalam epos Mahabharata yang ditulis selama ratusan tahun, guru juga memiliki peran penting di kehidupan para ksatria. Sang Guru bisa seorang resi yang harus mengambil peran sulit di tengah pertikaian seperti Durna. Ia juga bisa berupa sosok yang cenderung misterius seperti Khaidir yang memberikan tugas yang membuat kening berkerut. Dialah Dewa Ruci yang membuat sang perkasa Bima akhirnya juga menguasai hikmah.

Hari Guru baru berlalu. Sebuah momentum yang tak akan berlalu begitu saja buat saya yang dibesarkan oleh ayah yang 'guru', yang membuat saya juga bernaluri guru. Seorang guru bisa jadi seorang yang telah mendapat pengakuan berupa pengangkatan oleh negara seperti para guru formal yang ada selama ini, juga para guru bantu yang baru diangkat belakangan ini. Guru bisa juga tak bekerja resmi sebagai pengajar, namun ia tak berhenti bergerak buat mengasah dan membangkitkan potensi orang-orang di sekitarnya.

Para guru saat ini jelas bukan Nabi Khaidir. Apalagi Dewa Ruci yang cuma ada dalam cerita. Namun guru bisa, dan bahkan semestinya, mengikuti langkah-langkah mereka. Yakni, menempatkan diri untuk mengajarkan hikmah pada para muridnya untuk menjadi manusia-manusia utuh. Guru-guru demikian tidak akan mengecilkan diri sendiri menjadi sekadar alat pendidikan buat menyampaikan pelajaran. Guru-guru demikian akan terus mengasah diri lahir batin untuk dapat menjadi pribadi yang waskito. Pribadi yang mata lahir dan batinnya mampu mengenali setiap potensi para murid, dan berkemampuan membangkitkan potensi tersebut. Sebuah peran guru yang sejalan dengan akar kata edukasi: e dan ducare, yang berarti 'mengeluarkan potensi'.

Dunia saat ini sangat berbeda dengan dunia beberapa tahun lampau. Perlu manusia baru dengan cara pandang yang sama sekali baru buat mengelola dunia sekarang. Anak-anak bangsa saat ini haruslah anak-anak bangsa yang memiliki akar nilai-nilai agama dan budaya yang teguh, sekaligus mampu menjangkau peradaban global. Anak-anak bangsa kita haruslah anak-anak bangsa yang berani dan mampu menyebar dan berperan di seluruh muka bumi, dengan tetap memegang teguh nilai-nilai agama dan budayanya sendiri. Siapa yang mampu melahirkan anak-anak bangsa seperti itu kalau bukan guru?

Maka, hari-hari sekarang sungguh membahagiakan melihat para guru berlomba bermetamorfosis dari sekadar penyampai kurikulum menjadi para guru sejati pengukir sejarah yang mengajarkan hikmah dan memberikan keteladanan dalam kehidupannya.

(-)

Tidak ada komentar:

Al Quran On Line