Kamis, 02 April 2009

Kedermawanan



Oleh Mohamad Sholihan

Aib seseorang terlihat dari kebakhilannya. Sedangkan, yang bisa menutup aib dari pandangan manusia adalah sikap kedermawanan. Karena itu, berselimutlah kain kedermawanan karena semua aib itu penutupnya adalah sifat dermawan.

Ali bin Abi Thalib mengatakan, ''Jika dunia mendatangimu, sedekahkanlah karena yang kau sedekahkan itu tidak akan habis.'' Ini sesuai sabda Nabi Muhammad SAW, ''Sedekah itu tidak akan mengurangi harta.'' (HR Muslim).

Kedermawanan adalah kemurahan, suka memberi, dan semua bentuk kemurahan hati. Hal itu akan memberikan pengaruh positif dan menyenangkan dalam diri si pemberi ataupun orang lain yang menerima.

Bersedekah bukan hanya kepada manusia, tapi juga makhluk lainnya. Banyak orang menyangka bahwa memperlakukan binatang dengan baik bukan termasuk kedermawanan. Padahal, perbuatan itu juga kedermawanan. Karena, hal itu tak akan dilakukan, kecuali oleh jiwa-jiwa mulia dan baik.

Jika tak sanggup bersedekah dengan harta terhadap manusia dan binatang, masih ada sedekah bentuk lain, yakni ucapan yang baik. Bila tak mampu menyenangkan manusia dengan harta, buatlah mereka senang dengan penampilan wajah kita yang berseri dan budi pekerti yang baik.

Menghormati, menghargai, dan memuliakan sesama dengan cara mengucapkan kata-kata yang santun, wajah berseri, dan sikap sopan merupakan bagian kedermawanan.

Kedermawanan meliputi makna-makna kewibawaan, memberi bantuan, kecerdasan hati, ringan tangan, menolong orang kesusahan, membantu yang terasing, membantu tetangga, dan segala kegiatan yang bernilai kebaikan dan kebajikan.

Jika unsur yang terbanyak dalam kedermawanan itu adalah sedekah, sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkan kita banyak bersedekah. ''Dan, barang apa saja yang kamu sedekahkan, Allah akan menggantinya. Dan, Dia sebaik-baik pemberi rezeki.'' (QS Saba' [34]: 39).

Jika orang yang dermawan suka memberi, sebaliknya orang yang bakhil itu bangga dengan kebakhilannya. Orang-orang yang bakhil bangga dengan harta yang mereka miliki. Padahal, harta orang bakhil tidaklah berkah.

''Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan, adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala yang terbaik, kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar (QS Allail [92]: 5-10).

Tidak ada komentar:

Al Quran On Line