Sabtu, 07 Maret 2009

Stabil Semangat Karena Kaya Harapan

MOHAMMAD DAMAMI
Anggota Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah


Salah satu ciri yang menjadikan manusia lebih unggul jika dibandingkan dengan jenis makhluk yang lain adalah karena manusia dikaruniai mampu merumuskan, menghayati dan memanfaatkan apa yang disebut “harapan”. Karena itu, benar kalau ada kata-kata mutiara yang mengatakan, “harapan adalah masa depan”, “harapan adalah perubahan”, “hidup diwarnai oleh harapan yang melatarbelakanginya”, dan sebagainya. Sebaliknya, jika seseeorang telah menghilangkan harapan dalam hatinya, maka berarti dia seolah-olah telah melakukan bunuh diri.

Dalam kitab Lisaanu-‘ul ‘Arab (Juz I, halaman 422) karangan Ibnu Mandhur dituliskan bahwa “ar-raghbah” berarti “al-hirshu ‘ala-‘l jam’ (serakah dalam usaha mengumpul-ngumpulkan). Di sini yang dimaksud adalah keinginan untuk berjaga-jaga, agar hal-hal yang buruk tidak menimpa. Karena itu, kata “ar-raghbah” ini sering dikaitkan dengan kata “ar-rahbah” yang berarti “al-khauf wa-‘l fasa” (takut dan membutuhkan keterlindungan) (baca: Lisaanu-‘l “Arab, Juz I halaman 436). Dalam bahasa Indonesia, kata “ar-raghbah” ini dapat diringkaskan terjemahannya dengan kata “harapan”.

Bagaimana ajaran yang dimaktub dalam Al-Qur’an tentang masalah di selingkar “harapan” ini?
Dalam Al-Qur’an (Q.s. Alam Nasyrah [94]: 8), Allah SwT berfirman: wa ilaa rabbika fa-‘rghab (dan hanya kepada Tuhanmu hendaknya engkau berharap). Kalau firman ini dirinci akan dapat dijelaskan sebagai berikut. “Wa ilaa rabbika” (dan hanya kepada Rabbimu/Tuhanmu) mengandung arti Rabbun (Tuhan Yang Maha Mengatur) adalah yang menjadi suara segala harapan. Bahwa, segala hal yang berlaku di dunia ini sesuai dengan segala ilmu, iradah/kehendak, dan rencana Allah SwT. Karena itu Allah sangat mengetahui rahasia apa pun yang berlaku dalam seluruh makhluk-Nya. Karena itu pula sangat logis kalau segala harapan ditumpukan dan ditujukan hanya kepada Allah SwT.

Apa yang disebut “harapan” itu berbeda dengan sebutan “keinginan” dan “cita-cita”. Yang disebut “keinginan” adalah hal-hal yang terlintas dalam ruang batin yang datang dan perginya begitu cepat. Suatu saat muncul berbagai macam keinginan, tetapi pada saat berikutnya keinginan tersebut dapat lenyap seketika. Jumlah keinginan ini tidak terhingga banyaknya. Karena datang dan perginya keinginan tersebut begitu gampangnya, maka sangat sering sang keinginan tersebut tidak pernah terwujud. Keinginan tinggal keinginan. Jarak antara “keinginan” dan “kenyataan” masih jauh.
Sementara itu, yang disebut “cita-cita” adalah keinginan yang telah dirumuskan secara jelas. Jumlahnya menjadi jauh lebih sedikit. Cita-cita ini akan dapat menjadi kenyataan kalau dikaitkan dengan pelaksanaan setahap demi setahap sesuai dengan rencana kerja yang telah disusun. Jarak antara “cita-cita” dan “kenyataan” memang relatif lebih dekat kalau dibandingkan dengan jarak antara “keinginan” dan “kenyataan” seperti di atas.

Mengapa masalah “harapan” masih diperlukan kalau arti dari “keinginan” dan “cita-cita” seperti di atas? Perlu dipahami bahwa apa yang disebut “keinginan” itu sifatnya sangat emosional (hanya memperturuti arus hati saja). Di situ tidak atau kurang dipertimbangkan faktor logis atau tidak, mungkin tercapai atau tidak. Akibatnya hati orang menjadi tidak begitu jelas mana yang dituju. Sementara itu, dalam cita-cita memang sudah mulai dikaitkan dengan rencana kerja untuk meraihnya. Namun, proses pencapaian cita-cita tersebut semata-mata bersifat teknis. Suatu ketika kalau sampai terjadi kegagalan, maka muncullah kecenderungan untuk kecewa, bahkan kecewa berat, dan frustasi. Orang menjadi limbung; seolah-olah hidup ini adanya hanya kegagalan dan kegagalan. Dalam kondisi seperti inilah “harapan” menjadi cahaya yang mampu melindungi. Mengapa demikian?

Al-Qur’an tidak pernah mengajari umat Islam dalam menghadapi Allah SwT sekedar memakai kata-kata “ingin” atau “cita-cita”, tetapi justru dianjurkan memakai kata “harap”. Dalam kata “harap” ini terkandung faktor, pertama, kemantapan hati. Kemantapan hati ini muncul karena adanya keyakinan bahwa keberhasilan amat mungkin dicapai mengingat Allah SwT adalah Rabbun (Tuhan Maha Mengatur) dan Al-Ghaniyyu (Tuhan Yang Maha Kaya). Jadi kalau harapan itu ditujukan kepada Allah SwT yang bersifat demikian itu, hati menjadi mantap, tidak ragu-ragu, tidak merasa khawatir, dan tidak gelisah. Kedua, konsentrasi menjadi tinggi. Bahwa, apa yang menjadi harapan di hadapan Allah SwT itu akan berlangsung satu persatu. Karena itu, hati tidak mudah dikacaukan oleh hal-hal lainnya. Hal seperti ini akan berdampak menenangkan hati dan jiwa. Dalam bahasa psikologi, orang akan terhindar dari rasa khawatir (anxiety) dan frustasi. Karena itu, anjuran yang sangat ditekankan Al-Qur’an kepada umat Islam bukan sekedar “ajukanlah keinginan kepada Allah” atau “ajukanlah cita-cita kepada Allah”, melainkan: banyak-banyaklah berharap hanya kepada Allah.

Manusia modern dewasa ini ada kecenderungan mengandalkan kemampuan berpikir rasionalnya dalam memecahkan berbagai macam tantangan hidupnya. Dalam bahasa filsafat, manusia macam ini lebih bersifat antroposentris (manusia sebagai pusat segalanya). Namun anehnya, “ketakaburan manusia modern” semacam ini tidak diimbangi dengan daya tahan untuk menderita apabila terjadi kegagalan. Tidak jarang lalu buru-buru mengeluh, mencari media penenang yang justru destruktif (narkoba, misalnya), atau lari ke hal-hal yang bersifat magis, animis, dan sebagainya. Al-Qur’an menawarkan pemecahan, bahwa semua hal tidak dapat dipecahkan secara rasional belaka, melainkan perlu ditransendensikan, ditarik ke “atas”, Allah SwT dilibatkan. Caranya adalah, dengan mempertebal dan mempertinggi harapan kepada Allah SwT. Dengan cara itu, semangat hidup akan stabil, bahkan meningkat. Semangat yang dicahayai suasana Ilahiah inilah yang sangat perlu dalam kehidupan dewasa ini.
Wallaahu a’lam bishshawab.l

Tidak ada komentar:

Al Quran On Line