Senin, 30 Maret 2009

Di Balik Rasa Sakit



Oleh Mujib Sahli

Seorang siswa yang sedang bersekolah, setiap memasuki waktu kenaikan kelas akan melaksanakan ujian. Nilai dari hasil ujian ini selanjutnya yang akan menentukan seorang siswa naik atau tinggal kelas.Demikian pula kehidupan dunia ini. Hidup adalah proses pembelajaran menuju insan mulia. Kemuliaan merupakan buah dari nilai ujian kehidupan kita yang lebih tinggi dari rata-rata.

Dalam Alquran surah Al-Ankabut [29] ayat 2, Allah berfirman, ''Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) menyatakan, 'Kami telah beriman,' sedangkan mereka belum diuji lagi.'' Adalah kesenangan luar biasa bagi manusia, jika dengan mengatakan dirinya beriman lantas Allah SWT tidak mengujinya. Allah SWT tentu akan menguji untuk mengukur keimanan seorang hamba. Dan salah satu bentuk ujian kehidupan manusia yang akan menghampiri setiap orang adalah sakit, baik ringan maupun berat.

Sakit adalah utusan kehidupan dari Allah SWT. Meskipun sakit merupakan fenomena fisik, namun yang menentukan kadar rasa sakitnya adalah psikis. Ketenangan psikis saat fisik diuji sakit separah apa pun, dengan sendirinya akan meminimalisasi rasa sakitnya.

Inilah yang semestinya disadari oleh seorang Muslim. ''Aku heran dengan Mukmin yang gelisah menghadapi penderitaan sakitnya. Jika ia mengetahui pahala yang terdapat pada sakitnya, ia pasti akan mengharapkan sakit tersebut sehingga bertemu dengan Allah.'' (HR Tabrani dari Ibnu Mas'ud).

Alangkah tingginya keutamaan rasa sakit yang Allah SWT ujikan kepada kita jika tepat menyikapinya. Cukuplah itu sebagai bukti bahwa Allah SWT mengaruniai rasa sakit dengan Maharahman dan Rahim-Nya, bukan dengan ghadhab (murka)-Nya.

Nabi Ayub AS adalah contoh tersukses dalam memahami fadhilah di balik rasa sakit. Justru sakitnya mengantarkan menjadi Nabi Allah SWT yang kian dekat dengan Sang Khalik. Dalam hadis riwayat Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda, ''Orang yang banyak mendapat ujian adalah para nabi, kemudian orang-orang yang lebih dekat derajatnya kepada mereka secara bertingkat dan berurutan. Seseorang diuji berdasarkan ketaatannya dalam agama. Demikianlah, bala dan ujian itu senantiasa ditimpakan kepada seorang hamba sampai ia dibiarkan berjalan di muka bumi ini tanpa dosa apa pun.''

Siapakah kiranya manusia di muka bumi ini yang tak suka menghadap Allah SWT tanpa dosa. Dirinya putih bersih laksana bayi yang baru terlahir ketika berpulang ke haribaan-Nya. Sakitnya tak disambut dengan rintihan, ratapan, keluhan, dan cacian kepada Allah SWT, melainkan disikapi dengan tepat dan proporsional karena paham fadhilah-nya.

Tidak ada komentar:

Al Quran On Line