Jumat, 10 Desember 2010

Hijrah Aktual

Fajar Kurnianto
Peneliti pada Institut Studi Agama Sosial & Politik

Tahun baru Islam 1 Muharram 1432 H jatuh pada 7 Desember ini. Bagi umat Islam, ini momen penting mengingatkan pada sejarah hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Husein Haikal dalam bukunya, Hayat Muhammad (1972), menyebut hijrah sebagai kisah yang paling cemerlang dan indah yang pernah dikenal manusia dalam sejarah pengejaran yang penuh bahaya demi kebenaran, keyakinan, dan iman.

Hijrah

Menurut kamus bahasa Arab, Lisanul 'Arab, karya Ibnu Manzhur, kata 'hijrah' memiliki beberapa arti, di antaranya: meninggalkan, memisahkan, dan menjauhi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hijrah memiliki dua pengertian. Pertama, perpindahan Nabi Muhammad bersama sebagian pengikutnya dari Makkah ke Madinah untuk menyelamatkan diri dan sebagainya dari tekanan kaum kafir Quraisy Makkah. Kedua, berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya).

Pengertian hijrah secara detail dikemukakan oleh Ibnul Arabi (468-543 H), seorang ahli hadis terkemuka Mazhab Maliki. Menurutnya, ada enam pengertian hijrah. Pertama, berpindah dari satu negeri yang sedang berperang ke negeri yang aman dan damai. Kedua, menyingkirkan diri dari tempat yang penuh dengan bidah. Ketiga, keluar dari negeri yang dikuasai oleh perbuatan maksiat.

Keempat, menyingkirkan diri dari tindakan-tindakan teror yang bersifat fisik. Kelima, keluar dari negeri yang dijangkiti wabah penyakit. Keenam, menyingkirkan diri karena khawatir atau merasa tidak ada jaminan keselamatan harta benda, jiwa, dan keluarga. Dari pengertian tersebut di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa hijrah itu memiliki
dua bentuk. Pertama, hijrah yang berbentuk fisik. Kedua, hijrah berbentuk nonfisik.

Hijrah fisik berkaitan dengan aktivitas fisik, yakni berpindahnya orang dari satu tempat ke tempat lain karena alasan tertentu. Sementara hijrah nonfisik berkaitan dengan aspek sikap dan paradigma berpikir yang berubah dari hal buruk pada hal yang baik. Inilah misalnya yang diisyaratkan oleh Rasulullah dalam hadisnya, "Orang yang berhijrah itu adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah." (HR Bukhari dari Abdullah bin Amr).

Ada hal menarik terkait dengan hijrah ini. Ketika Rasulullah dan kaum Muslimin berhasil menaklukkan Makkah (Fathu Makkah) pada 8 H, Rasulullah mengatakan, "Setelah penaklukan Makkah ini, tidak ada lagi hijrah, tapi yang ada adalah jihad dan niat." (HR Bukhari dari Abdullah bin Amr). Hijrah yang beliau maksud adalah hijrah fisik, yakni perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Dengan demikian, secara tegas Rasul menyatakan bahwa hijrah seperti yang beliau dan para sahabat lakukan dari Makkah ke Madinah demi mempertahankan keyakinan dan kebenaran sudah tidak ada lagi. Yang ada adalah jihad dan niat. Inilah hijrah aktual yang lebih orientatif dan prospektif.

Hijrah aktual

Jihad secara bahasa artinya upaya sungguh-sungguh dan keras untuk mencapai yang diharapkan atau tujuan tertentu. Yusuf Qardhawi dalam bukunya, Fiqih Jihad, menyebutkan bahwa jihad memiliki pengertian mencurahkan segala usaha, kemampuan, dan tenaga. Menurutnya, ada empat pemahaman jihad.

Pertama, jihad militer. Kedua, jihad spiritual. Ketiga, jihad dakwah. Keempat, jihad madani, yakni jihad masyarakat sipil. Inti dari jihad ini adalah untuk memberdayakan umat. Di dalam Alquran, kata 'jihad' biasanya digandengkan dengan kata 'fi sabilillah', yakni di jalan Allah. Artinya, jihad itu mesti pada hal-hal yang sifatnya selaras dengan ajaran Allah dan demi mendapatkan keridaan Allah. Salah satu derivasi dari kata 'jihad' adalah 'ijtihad', yakni upaya sungguh-sungguh dan keras untuk mendalami dan menggali apa yang ada di dalam sumber-sumber ajaran Islam, yakni Alquran dan hadis, kemudian dari situ dikeluarkan sebuah hukum Islam.

Sementara itu, 'niat' artinya 'qashd', yakni keinginan, harapan, dan cita-cita yang ingin diraih. Dalam sebuah hadisnya, Rasulullah mengatakan bahwa orang akan mendapatkan sesuai yang ia niatkan, "Segala sesuatu itu tergantung niatnya. Setiap orang akan mendapatkan sesuai yang ia niatkan. Siapa yang niat hijrahnya adalah untuk mendapatkan keridaan Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkannya. Siapa yang niat hijrahnya untuk mendapatkan dunia, maka ia akan mendapatkannya." (HR Bukhari-Muslim dari Umar bin Khaththab).

Jihad dan niat hijrah inilah yang selalu aktual. Manusia dituntut untuk bersungguh- sungguh dalam segala hal dan aktivitas, yang positif tentu saja, disertai dengan niat orientatif-prospektif yang diciptakan terus-menerus. Inilah yang mengkreasi perubahan masif-revolusioner secara radikal. Dalam kaitannya dengan konteks kehidupan berbangsa, hijrah aktual bermakna bahwa semua elemen bangsa, dari para penggawa pemerintahan, para pejabat publik, hingga masyarakat akar rumput, perlu memperbarui niatnya kembali. Tentu saja, niat untuk membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Tidak hanya niat, tetapi juga benar-benar dibuktikan melalui upaya keras dan sungguh-sungguh untuk mewujudkan hal itu. Tanpa kedua hal itu, bangsa ini akan terus jalan di tempat tanpa orientasi masa depan yang jelas. Ini tanggung jawab kita bersama, terutama dari para pemimpin yang bertugas memimpin bangsa ini untuk berhijrah ke arah yang lebih baik. Ali bin Abu Thalib mengatakan, "Jika hari ini sama dengan hari kemarin, maka itu adalah kerugian." Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Al Quran On Line